Memimpin Generasi Z di Tempat Kerja: Dari Komando ke Koneksi
- Farvis Indonesia
- Nov 5
- 3 min read
Generasi Z — mereka yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012 — kini menjadi kekuatan baru di dunia kerja Indonesia. Dengan populasi mencapai sekitar 27,94% dari total penduduk Indonesia atau sekitar 74,9 juta orang, Gen Z bukan lagi “generasi masa depan”—mereka adalah generasi masa kini yang sedang membentuk budaya kerja baru.
Namun, banyak pemimpin masih kebingungan menghadapi mereka: mengapa pendekatan kepemimpinan tradisional tidak lagi efektif? Jawabannya sederhana — memimpin Gen Z bukan tentang kontrol, tetapi tentang koneksi.
Berikut panduan bagaimana para pemimpin dapat menjembatani perbedaan generasi dan membangun tim lintas usia yang produktif dan bermakna.
1. Pimpin dengan Tujuan, Bukan Jabatan
Gen Z termotivasi oleh mengapa, bukan hanya apa. Mereka ingin bekerja di organisasi yang memiliki tujuan dan nilai yang selaras dengan keyakinan pribadi mereka — entah itu keberlanjutan, inklusi, atau inovasi.
Di Indonesia, dengan tingkat pengangguran terbuka mencapai 42,62% di kelompok usia 15–24 tahun, generasi ini sangat memprioritaskan pekerjaan yang bermakna dan berkontribusi pada masyarakat.
Langkah bagi pemimpin:
Sampaikan visi dan misi perusahaan secara jelas dan konsisten.
Tunjukkan bagaimana pekerjaan sehari-hari berdampak pada tujuan yang lebih besar.
Hargai kontribusi yang mendorong nilai, bukan hanya angka.
2. Beri Ruang untuk Suara dan Pilihan
Gen Z menghargai otonomi dan partisipasi. Mereka tidak ingin hanya menjadi pelaksana, tapi juga ingin dilibatkan dalam pengambilan keputusan dan merasa didengarkan.
Langkah bagi pemimpin:
Libatkan mereka dalam sesi ideasi dan pemecahan masalah.
Terapkan reverse mentoring — biarkan Gen Z berbagi wawasan tentang tren digital atau budaya media sosial.
Kurangi hierarki kaku dan ciptakan lingkungan kerja kolaboratif.
3. Ubah Cara Memberi Umpan Balik: Cepat, Sering, dan Fokus
Gen Z tumbuh dalam budaya real-time feedback — dunia “like”, komentar, dan notifikasi instan. Maka, penilaian tahunan saja tidak cukup.
Langkah bagi pemimpin:
Berikan umpan balik singkat tapi konstruktif secara rutin.
Rayakan kemenangan kecil secara terbuka.
Gunakan umpan balik untuk pengembangan, bukan penilaian semata.
4. Bangun Budaya Kesejahteraan dan Fleksibilitas
Bagi Gen Z, keseimbangan hidup dan kerja bukanlah bonus, tapi kebutuhan dasar. Mereka ingin tempat kerja yang memperhatikan kesehatan mental, fleksibilitas waktu, dan makna hidup.
Data BPS menunjukkan sekitar 45,1% pekerja muda (usia 15–24 tahun) di Indonesia masih berada di sektor informal, dan 61% di antaranya bekerja tanpa upah sebagai pekerja keluarga. Ini menunjukkan pentingnya menciptakan sistem kerja yang lebih fleksibel dan manusiawi.
Langkah bagi pemimpin:
Sediakan opsi kerja fleksibel atau hybrid bila memungkinkan.
Normalisasi percakapan tentang kesehatan mental dan stres kerja.
Jadilah teladan keseimbangan hidup, bukan kelelahan kerja.
5. Berdayakan Melalui Teknologi dan Pembelajaran
Gen Z adalah generasi paling melek teknologi dalam sejarah dunia kerja. Namun, mereka juga haus akan pembelajaran berkelanjutan dan kesempatan berkembang.
Langkah bagi pemimpin:
Investasikan pada alat digital yang mempermudah kolaborasi.
Sediakan program pembelajaran singkat dan mentoring.
Dorong budaya ingin tahu dan inovatif, bukan status quo.
6. Autentisitas Adalah Bentuk Baru dari Otoritas
Gen Z memiliki radar tajam terhadap ketidaktulusan. Mereka menghargai pemimpin yang jujur, terbuka, dan manusiawi.
Langkah bagi pemimpin:
Ceritakan perjalanan belajar dan kegagalan Anda secara terbuka.
Gunakan bahasa yang transparan, bukan jargon korporat.
Konsisten antara ucapan dan tindakan.
Kesimpulan: Dari Mengatur ke Membimbing
Untuk memimpin Gen Z, kita perlu menjadi mentor, bukan hanya manajer. Mereka tidak mencari bos, tapi pembimbing yang mendengarkan dan menginspirasi.
Dengan sekitar 28% tenaga kerja Indonesia berasal dari Gen Z, para pemimpin harus beradaptasi — bukan hanya untuk menarik talenta muda, tetapi untuk menumbuhkan generasi profesional yang berdaya, beretika, dan berorientasi pada dampak positif.
Pada akhirnya, Gen Z tidak meminta perlakuan istimewa. Mereka hanya menginginkan kepemimpinan yang bermakna — dan itu adalah sesuatu yang bisa diterima oleh semua generasi.
Tabel: Potret Gen Z di Indonesia
Indikator | Data |
Proporsi Gen Z dalam populasi | 27,94% (≈74,9 juta orang) |
Proporsi Gen Z di angkatan kerja | ~27,94% dari 143,7 juta pekerja |
Pengangguran usia 15–24 tahun | 42,62% |
Gen Z yang menganggur | ≈10 juta orang |
Pekerja muda di sektor informal | 45,1% (61% di antaranya pekerja keluarga tanpa upah) |
Sumber: BPS, Bappenas, The Jakarta Globe, The S Media (2024–2025)





Comments