top of page

Kerangka Diagnostik Budaya (Culture Diagnostic Framework): Memahami dan Mengukur Keselarasan Budaya Dan Strategi Organisasi

Kerangka Diagnostik Budaya adalah pendekatan terstruktur untuk memahami budaya organisasi saat ini — bagaimana karakteristiknya, sejauh mana selaras dengan strategi perusahaan, serta bagaimana pengaruhnya terhadap kinerja.


Berbagai model teoretis dapat digunakan sebagai lensa atau alat bantu dalam proses diagnosis ini. Berikut penjelasan berdasarkan beberapa model yang diakui secara internasional.


1.  Edgar Schein’s Three Level Model

Tujuan: Memahami budaya dari akar terdalamnya.

Tingkat

Deskripsi

Cara Mendiagnosis

Artefak (Artifacts)

Elemen yang terlihat, seperti tata ruang kantor, cara berpakaian, ritual, slogan.

Observasi langsung, dokumentasi visual, analisis dokumen.

Nilai yang Dinyatakan (Espoused Values)

Keyakinan dan strategi yang dinyatakan secara resmi (visi, misi, nilai-nilai perusahaan).

Wawancara pimpinan, analisis pernyataan resmi organisasi.

Asumsi Dasar (Underlying Assumptions)

Keyakinan mendasar yang dianggap “sewajarnya” tentang manusia, pekerjaan, dan kesuksesan.

Wawancara mendalam, mendengarkan cerita, observasi etnografis.

✅ Kapan digunakan: Saat perusahaan ingin memahami budaya secara mendalam atau merancang program perubahan budaya.


2. Denison Organizational Culture Model

Tujuan: Menghubungkan budaya dengan hasil bisnis dan kinerja.

Dimensi

Fokus

Contoh Pertanyaan Diagnostik

Misi (Mission)

Kejelasan arah dan tujuan strategis.

Apakah karyawan memahami arah perusahaan?

Adaptabilitas (Adaptability)

Kemampuan merespons pasar dan lingkungan.

Apakah organisasi belajar dari pelanggan dan cepat berinovasi?

Keterlibatan (Involvement)

Pemberdayaan dan partisipasi karyawan.

Apakah orang merasa memiliki dan bertanggung jawab?

Konsistensi (Consistency)

Nilai-nilai inti dan keselarasan internal.

Apakah terdapat sistem dan perilaku yang selaras di seluruh unit?

✅ Kapan digunakan: Saat organisasi ingin mengukur budaya dengan survei dan mengaitkannya dengan hasil (seperti profitabilitas, kepuasan pelanggan, produktivitas).


3. Competing Values Framework (CVF) – Cameron & Quinn

Tujuan: Mengidentifikasi tipe budaya dominan dan budaya yang diinginkan.

Kuadran

Fokus

Contoh Perilaku

Clan (Kolaboratif)

Fokus internal + fleksibilitas

Seperti keluarga, mendukung, kerja tim.

Adhocracy (Kreatif)

Fokus eksternal + fleksibilitas

Inovatif, berani mengambil risiko, eksperimental.

Market (Kompetitif)

Fokus eksternal + stabilitas

Berorientasi hasil, target-driven, kompetitif.

Hierarchy (Terkontrol)

Fokus internal + stabilitas

Terstruktur, efisien, berbasis prosedur.

✅ Kapan digunakan: Saat ingin memetakan budaya saat ini vs. budaya yang diinginkan dan merancang langkah transformasi budaya.


4. The Cultural Web – Johnson & Scholes

Tujuan: Mengidentifikasi elemen-elemen yang memperkuat budaya dominan organisasi.

Elemen

Fokus

Contoh Pertanyaan Diagnostik

Cerita (Stories)

Narasi yang sering diceritakan tentang kesuksesan atau kegagalan.

Cerita apa yang paling sering diceritakan tentang “orang sukses”?

Ritual & Rutinitas (Rituals & Routines)

Kebiasaan sehari-hari yang menunjukkan apa yang dianggap penting.

Bagaimana perilaku orang dalam rapat atau menghadapi pelanggan?

Simbol (Symbols)

Logo, desain kantor, cara berpakaian.

Apa pesan yang disampaikan simbol-simbol organisasi?

Struktur Organisasi (Structure)

Pola kekuasaan dan hierarki.

Siapa yang sebenarnya punya pengaruh dalam keputusan penting?

Sistem Pengendalian (Control Systems)

Apa yang diukur dan diberi penghargaan.

Apakah KPI mendorong perilaku yang diinginkan?

Struktur Kekuasaan (Power Structures)

Siapa yang menentukan arah organisasi.

Siapa yang menentukan apa yang penting di sini?

✅ Kapan digunakan: Saat ingin memvisualisasikan budaya organisasi dan menemukan tuas perubahan.


5. McKinsey 7S Framework

Tujuan: Menilai keselarasan budaya dengan elemen organisasi lainnya.

Elemen

Fokus

Strategy (Strategi)

Arah dan rencana mencapai tujuan.

Structure (Struktur)

Cara organisasi disusun.

Systems (Sistem)

Proses, prosedur, dan teknologi pendukung.

Style (Gaya Kepemimpinan)

Cara pemimpin berperilaku dan mengarahkan.

Staff (SDM)

Orang dan kompetensi mereka.

Skills (Keahlian)

Kapabilitas inti organisasi.

Shared Values (Nilai Bersama)

Inti budaya dan keyakinan organisasi.

✅ Kapan digunakan: Saat ingin melihat apakah budaya dan nilai-nilai organisasi selaras dengan strategi bisnis dan sistem operasionalnya.


6. Hofstede’s Organizational Culture Dimensions

Tujuan: Mendiagnosis karakteristik budaya lintas wilayah atau divisi.

Dimensi

Deskripsi

Proses vs. Hasil (Process vs. Results)

Fokus pada cara bekerja atau hasil akhir.

Orientasi Karyawan vs. Pekerjaan

Fokus pada kesejahteraan orang atau tugas.

Parokial vs. Profesional

Loyalitas terhadap perusahaan atau profesi.

Sistem Terbuka vs. Tertutup

Tingkat keterbukaan terhadap pihak luar.

Kontrol Longgar vs. Ketat

Tingkat disiplin dan pengawasan.

Normatif vs. Pragmatis

Kepatuhan pada aturan vs. orientasi pelanggan.

✅ Kapan digunakan: Saat organisasi memiliki unit lintas negara atau ingin memahami perbedaan subkultur antar divisi.


7. Barrett Values Model

Tujuan: Mengukur keselarasan nilai dan tingkat “entropi budaya” (gesekan nilai).

Fokus

Deskripsi

Nilai Pribadi

Apa yang dianggap penting oleh individu.

Nilai Budaya Saat Ini

Apa yang sebenarnya dirasakan dalam organisasi.

Nilai Budaya yang Diinginkan

Budaya seperti apa yang diharapkan karyawan.

✅ Kapan digunakan: Saat ingin melihat sejauh mana nilai-nilai individu, budaya saat ini, dan budaya yang diinginkan selaras.


Contoh Tahapan Integrasi Diagnostik Budaya

Tahap

Aktivitas

Model/Alat

1

Menetapkan tujuan dan ruang lingkup diagnosis

Wawancara pimpinan

2

Mengukur budaya saat ini (kuantitatif)

Survei Denison atau OCAI (CVF)

3

Menggali budaya (kualitatif)

Wawancara mendalam, Cultural Web

4

Memetakan hasil

Visualisasi Cultural Web

5

Analisis keselarasan dengan strategi

McKinsey 7S

6

Identifikasi kesenjangan & rancang intervensi

Barrett Values, CVF

7

Ukur dampak perubahan

KPI terkait engagement & kinerja


Catatan Penting:

  • Diagnosis budaya organisasi yang komprehensif tidak cukup hanya menggunakan satu model.Kombinasi beberapa model memberi pandangan 360° terhadap budaya organisasi:

    • Schein → memahami makna dan lapisan terdalam budaya.

    • Denison / CVF → mengukur dan membandingkan budaya secara kuantitatif.

    • Cultural Web / 7S → memvisualisasikan dan memastikan keselarasan.

    • Barrett / Hofstede → menggali nilai dan perbedaan antar subkultur.


  • Gabungan semua ini membantu organisasi menjawab:

“Budaya seperti apa yang kita miliki, mengapa budaya itu terbentuk, dan bagaimana budaya itu memengaruhi kinerja kita.”
ree

 
 
 

Recent Posts

See All
Analisis KMK RI No. 149 Tahun 2020

Ketika mengajar di program CHRP Batch C14 (93) pagi tadi mengenai Managing Learning & Development, saya merujuk pada Keputusan Menteri Ketenagakerjaan RI No. 149 Tahun 2020 Mengenai Standar Kompetensi

 
 
 

Comments

Rated 0 out of 5 stars.
No ratings yet

Add a rating
bottom of page