What HR could do when salary inversion/compression happen?
- Farvis Indonesia
- Jun 20
- 4 min read
Ketika pro-hire untuk level VP (misalnya) menerima gaji yang lebih rendah dari karyawan lama yang levelnya di bawahnya, apa yang harus dilakukan?

Contoh kasus:
Jabatan | Masa Kerja | Gaji |
Senior Manager (atasan, pro hire) | Baru bergabung | Rp50 juta |
Manager (bawahan) | 20 tahun | Rp55 juta |
Kasus ini lebih tepat disebut Salary Inversion, karena:
Jabatan atasan memiliki grade dan tanggung jawab yang lebih tinggi.
Namun gajinya justru lebih rendah daripada bawahannya.
➡️ Ini memenuhi definisi Salary Inversion (Pay Inversion).
Namun, bisa jadi sebelumnya diawali oleh Salary Compression
Salary compression adalah fenomena dimana gaji atasan dan bawahan tidak berbeda secara signifikan. Misalnya:
Jabatan | Gaji |
Senior Manager | Rp50 juta |
Manager | Rp49 juta |
Selisih hanya Rp1 juta.
Di tahap ini masih disebut Salary Compression karena gaji atasan dan bawahan sudah terlalu dekat.
Jika kemudian setelah beberapa tahun, karyawan di level manajer sudah mengalami kenaikan gaji, dan perusahaan melakukan pro-hire untuk level senior manager dengan menggunakan exsisting salary range sehingga perbandingannya menjadi seperti ini:
Jabatan | Gaji |
Senior Manager | Rp50 juta |
Manager | Rp55 juta |
Maka situasinya berubah menjadi Salary Inversion.
Jadi secara sederhana:
Compression = selisih gaji terlalu kecil.
Inversion = urutan gaji terbalik (bawahan lebih tinggi dari atasan).
Untuk kasus ini, apabila pro hire sebagai atasan memang menerima gaji lebih rendah dibanding bawahannya yang lebih lama bekerja, maka istilah yang paling tepat adalah Salary Inversion.
Dari perspektif remunerasi, ini belum tentu salah. Yang perlu diperiksa adalah:
Apakah gaji pro hire sesuai dengan harga pasar untuk jabatannya?
Apakah bawahan tersebut sudah berada di atas salary range yang seharusnya?
Apakah ada alasan bisnis yang kuat (misalnya keahlian langka, kontribusi luar biasa, atau masa kerja yang sangat panjang)?
Apakah kondisi ini hanya terjadi pada satu-dua orang atau sudah menjadi pola yang meluas?
Jika inversion terjadi pada banyak posisi, biasanya itu menandakan bahwa struktur remunerasi perlu direview karena dapat menimbulkan:
Kesulitan menarik pemimpin baru.
Keengganan menerima promosi.
Persepsi ketidakadilan dalam organisasi.
Meningkatnya risiko turnover pada talenta kepemimpinan.
Karena itu, solusi yang biasanya direkomendasikan bukan langsung menaikkan gaji pro hire, melainkan melakukan analisis internal equity dan salary structure review secara menyeluruh untuk memastikan hubungan antar-grade tetap logis dan adil.
Untuk kasus salary inversion antara pro hire dan karyawan lama, saya sarankan melakukan Internal Equity Review dan Salary Structure Review secara sistematis. Tujuannya bukan mencari siapa yang "kelebihan gaji", tetapi memastikan bahwa kompensasi mencerminkan nilai jabatan, kompetensi, kinerja, dan pasar.
Tahap 1: Analisis Internal Equity
1.1. Data yang Perlu Dikumpulkan
Untuk setiap karyawan:
Jabatan
Grade
Gaji pokok
Total cash compensation (gaji + bonus + tunjangan tetap)
Masa kerja
Total pengalaman kerja
Kinerja 3 tahun terakhir
Pendidikan dan sertifikasi
Criticality posisi
Contoh:
Nama | Grade | Gaji | Masa Kerja | Rating Kinerja |
A | 15 | 50 jt | 1 th | Exceed |
B | 14 | 55 jt | 20 th | Meet |
C | 14 | 48 jt | 5 th | Exceed |
1.2. Buat Internal Equity Matrix
Kelompokkan berdasarkan grade.
Contoh Grade 14:
Nama | Gaji |
B | 55 jt |
C | 48 jt |
D | 46 jt |
E | 45 jt |
Hitung:
Minimum
Maximum
Median
Average
Lihat apakah ada outlier.
1.3. Analisis Antar Grade
Contoh:
Grade | Rata-rata Gaji |
13 | 40 jt |
14 | 48 jt |
15 | 50 jt |
Jika selisih Grade 14 dan Grade 15 hanya 4%, kemungkinan sudah terjadi compression.
Idealnya terdapat perbedaan yang cukup signifikan antar grade.
Sebagai panduan umum:
Supervisor → Manager : 15–20%
Manager → Senior Manager : 15–25%
Senior Manager → Director : 20–30%
Tahap 2: Salary Structure Review
2.1. Tentukan Salary Philosophy
Contoh:
P50 Market = market median
P60 Market = sedikit di atas pasar
P75 Market = agresif
Misalnya perusahaan memilih:
"Membayar pada posisi P60 pasar untuk kinerja yang memenuhi ekspektasi."
2.2. Buat Salary Range
Contoh:
Grade | Min | Mid | Max |
14 | 40 jt | 50 jt | 60 jt |
15 | 50 jt | 62 jt | 75 jt |
Dengan demikian Grade 15 tetap memiliki nilai jabatan yang lebih tinggi.
2.3. Hitung Compa-Ratio
Formula:
Compa Ratio = Gaji ÷ Midpoint
Contoh:
Karyawan | Gaji | Midpoint | Compa Ratio |
A | 50 jt | 62 jt | 81% |
B | 55 jt | 50 jt | 110% |
Interpretasi:
<80% = relatif rendah
80–120% = normal
120% = perlu ditinjau
Tahap 3: Identifikasi 4 Kelompok Karyawan
3.1. Green Circle: Gaji di bawah minimum range.
Tindakan: Prioritas penyesuaian.
3.2. Normal Range: Gaji berada dalam range.
Tindakan: Merit increase biasa.
3.3.Red Circle: Gaji di atas maksimum range.
Tindakan:
Hentikan kenaikan gaji pokok sementara.
Berikan bonus lump sum.
3.4. Inversion Cases: Atasan menerima lebih rendah daripada bawahan.
Tindakan:
Evaluasi penyebab.
Lakukan penyesuaian bertahap.
Rekomendasi Perbaikan
Opsi 1 (Paling Sehat): Perbaikan Bertahap 2–3 Tahun
Misalnya:
Jabatan | Saat Ini |
Senior Manager | 50 jt |
Manager | 55 jt |
Target:
Tahun | Senior Manager | Manager |
Sekarang | 50 jt | 55 jt |
Tahun 1 | 55 jt | 56 jt |
Tahun 2 | 60 jt | 57 jt |
Tahun 3 | 65 jt | 58 jt |
Gap kembali normal tanpa gejolak.
Opsi 2: One-Time Equity Adjustment
Digunakan untuk posisi kritis atau risiko resign tinggi.
Contoh:
Senior Manager langsung disesuaikan dari 50 jt menjadi 60 jt.
Opsi 3: Pisahkan Loyalitas dari Base Salary
Banyak perusahaan keluarga mengalami inversion karena menghargai loyalitas melalui gaji pokok.
Alternatif yang lebih sehat:
Long service award
Retention bonus
Profit sharing
Tambahan cuti
Penghargaan loyalitas
Dengan demikian loyalitas tetap dihargai tanpa merusak struktur gaji.
Rekomendasi untuk Perusahaan Konsultan IT atau Bisnis Keluarga
Saya biasanya menyarankan target berikut:
Struktur Gaji
Minimum = 80% midpoint
Midpoint = market target
Maximum = 120–130% midpoint
Diferensial Antar Grade
Minimal 15%
Ideal 20%
Review
Market benchmarking: setiap tahun
Internal equity review: setiap 2 tahun
Salary structure redesign: setiap 3–4 tahun
Prinsip Utama
Jangan mencoba membuat semua orang "sama-sama puas".
Tujuan remunerasi bukan menyamakan gaji semua orang, tetapi memastikan bahwa perbedaan gaji dapat dijelaskan secara objektif berdasarkan:
Nilai jabatan (job value)
Kinerja
Kompetensi
Pengalaman yang relevan
Daya saing pasar
Jika kelima faktor tersebut dapat menjelaskan perbedaan gaji secara konsisten, maka internal equity biasanya dianggap sehat oleh karyawan maupun manajemen.
Referensi
Jika Anda ingin menyusun kebijakan atau proposal remunerasi yang kuat untuk direksi atau pemilik perusahaan, saya sarankan menggunakan referensi dari lembaga kompensasi yang diakui secara internasional seperti SHRM, WorldatWork, Mercer, Salary.com, dan ADP.