top of page

Salary Compression vs Inversion: apa bedanya?

Ketika salah satu kelompok CHRP Batch C-17 menulis makalah mengenai salary compression yang ditunjukkan oleh sebuah fenomena dimana pro-hire untuk posisi VP justru menerima gaji lebih rendah dari bawahannya yang sudah bekerja lebih lama di perusahaan, saya tertarik untuk melakukan research tipis-tipis mengenai fenomena ini.


Pertama, apakah fenomena ini disebut sebagai salary compression? Dari research tipis-tipis itu, saya menemukan bahwa fenomena ini adalah salary inversion.. namun bisa timbul dan bisa mengakibatkan salary compression.


Di blog ini saya akan membandingkan apa yang disebut salary compression dan apa itu salary inversion.


Aspek

Salary Compression

Salary Inversion

Definisi

Selisih gaji antara karyawan senior dan karyawan baru terlalu kecil

Karyawan level lebih rendah menerima gaji lebih tinggi daripada karyawan level lebih tinggi

Gejala

Senior hanya menerima sedikit lebih tinggi dari karyawan baru

Bawahan atau level lebih rendah menerima gaji lebih tinggi daripada atasannya

Penyebab Utama

Kenaikan gaji pasar lebih cepat daripada kenaikan gaji internal

Akumulasi kenaikan gaji historis, masa kerja panjang, atau struktur gaji yang tidak terkontrol

Dampak

Senior merasa pengalaman dan kontribusinya tidak dihargai

Nilai jabatan menjadi tidak tercermin dalam struktur gaji

Risiko

Turnover karyawan senior, rendahnya motivasi

Karyawan enggan promosi, masalah keadilan internal, kesulitan menarik pemimpin baru

Solusi

Equity adjustment untuk karyawan senior yang terdampak

Review struktur gaji, red-circle management, dan penyesuaian salary range

Contoh Salary Compression

Jabatan

Masa Kerja

Gaji

Senior Consultant

8 tahun

Rp30 juta

Consultant Baru

1 tahun

Rp28 juta

Masalahnya:

  • Selisih hanya Rp2 juta (6,7%)

  • Pengalaman jauh berbeda tetapi penghargaan finansial hampir sama

➡️ Ini disebut Salary Compression.


Contoh Salary Inversion

Jabatan

Grade

Gaji

Senior Manager

15

Rp50 juta

Manager

14

Rp55 juta

Masalahnya:

  • Jabatan lebih rendah justru menerima gaji lebih tinggi

➡️ Ini disebut Salary Inversion.


Hubungan Keduanya

Salary Compression yang dibiarkan terlalu lama sering berkembang menjadi Salary Inversion.

Contoh:

Tahun 1:

  • Senior Manager = Rp50 juta

  • Manager = Rp45 juta

Tahun 5:

  • Senior Manager = Rp55 juta

  • Manager = Rp54 juta

➡️ Terjadi compression.

Tahun 7:

  • Senior Manager = Rp56 juta

  • Manager = Rp58 juta

➡️ Compression berubah menjadi inversion.


Prinsip yang Perlu Dijaga

Dalam sistem remunerasi yang sehat:

Nilai jabatan (job value) harus menjadi fondasi utama, kemudian dibedakan berdasarkan kinerja, kompetensi, dan pengalaman.

Artinya:

Grade lebih tinggi→ memiliki salary range yang lebih tinggi

Kinerja lebih tinggi→ memperoleh bonus atau kenaikan lebih besar

Pengalaman lebih panjang→ memengaruhi posisi dalam salary range, tetapi tidak otomatis membuat gaji melampaui jabatan yang lebih tinggi.


Bagi perusahaan keluarga atau perusahaan yang sedang berkembang, saya biasanya menyarankan untuk melakukan analisis internal equity setiap 2–3 tahun guna mendeteksi:

  • Salary compression

  • Salary inversion

  • Red-circle salary (gaji di atas maksimum range)

  • Green-circle salary (gaji di bawah minimum range)

sebelum masalah tersebut memengaruhi motivasi, retensi, dan efektivitas organisasi.


Bacaan yang Paling Saya Rekomendasikan

  1. SHRM – Salary Compression

  2. WorldatWork – Managing Pay Compression

  3. Salary.com – Salary Inversion vs Salary Compression

  4. ADP – Salary Compression Guide

  5. Paylocity – Compa Ratio Guide


 
 
 

Comments

Rated 0 out of 5 stars.
No ratings yet

Add a rating
bottom of page