Salary Compression vs Inversion: apa bedanya?
- Farvis Indonesia
- Jun 20
- 2 min read

Ketika salah satu kelompok CHRP Batch C-17 menulis makalah mengenai salary compression yang ditunjukkan oleh sebuah fenomena dimana pro-hire untuk posisi VP justru menerima gaji lebih rendah dari bawahannya yang sudah bekerja lebih lama di perusahaan, saya tertarik untuk melakukan research tipis-tipis mengenai fenomena ini.
Pertama, apakah fenomena ini disebut sebagai salary compression? Dari research tipis-tipis itu, saya menemukan bahwa fenomena ini adalah salary inversion.. namun bisa timbul dan bisa mengakibatkan salary compression.
Di blog ini saya akan membandingkan apa yang disebut salary compression dan apa itu salary inversion.
Aspek | Salary Compression | Salary Inversion |
Definisi | Selisih gaji antara karyawan senior dan karyawan baru terlalu kecil | Karyawan level lebih rendah menerima gaji lebih tinggi daripada karyawan level lebih tinggi |
Gejala | Senior hanya menerima sedikit lebih tinggi dari karyawan baru | Bawahan atau level lebih rendah menerima gaji lebih tinggi daripada atasannya |
Penyebab Utama | Kenaikan gaji pasar lebih cepat daripada kenaikan gaji internal | Akumulasi kenaikan gaji historis, masa kerja panjang, atau struktur gaji yang tidak terkontrol |
Dampak | Senior merasa pengalaman dan kontribusinya tidak dihargai | Nilai jabatan menjadi tidak tercermin dalam struktur gaji |
Risiko | Turnover karyawan senior, rendahnya motivasi | Karyawan enggan promosi, masalah keadilan internal, kesulitan menarik pemimpin baru |
Solusi | Equity adjustment untuk karyawan senior yang terdampak | Review struktur gaji, red-circle management, dan penyesuaian salary range |
Contoh Salary Compression
Jabatan | Masa Kerja | Gaji |
Senior Consultant | 8 tahun | Rp30 juta |
Consultant Baru | 1 tahun | Rp28 juta |
Masalahnya:
Selisih hanya Rp2 juta (6,7%)
Pengalaman jauh berbeda tetapi penghargaan finansial hampir sama
➡️ Ini disebut Salary Compression.
Contoh Salary Inversion
Jabatan | Grade | Gaji |
Senior Manager | 15 | Rp50 juta |
Manager | 14 | Rp55 juta |
Masalahnya:
Jabatan lebih rendah justru menerima gaji lebih tinggi
➡️ Ini disebut Salary Inversion.
Hubungan Keduanya
Salary Compression yang dibiarkan terlalu lama sering berkembang menjadi Salary Inversion.
Contoh:
Tahun 1:
Senior Manager = Rp50 juta
Manager = Rp45 juta
Tahun 5:
Senior Manager = Rp55 juta
Manager = Rp54 juta
➡️ Terjadi compression.
Tahun 7:
Senior Manager = Rp56 juta
Manager = Rp58 juta
➡️ Compression berubah menjadi inversion.
Prinsip yang Perlu Dijaga
Dalam sistem remunerasi yang sehat:
Nilai jabatan (job value) harus menjadi fondasi utama, kemudian dibedakan berdasarkan kinerja, kompetensi, dan pengalaman.
Artinya:
Grade lebih tinggi→ memiliki salary range yang lebih tinggi
Kinerja lebih tinggi→ memperoleh bonus atau kenaikan lebih besar
Pengalaman lebih panjang→ memengaruhi posisi dalam salary range, tetapi tidak otomatis membuat gaji melampaui jabatan yang lebih tinggi.
Bagi perusahaan keluarga atau perusahaan yang sedang berkembang, saya biasanya menyarankan untuk melakukan analisis internal equity setiap 2–3 tahun guna mendeteksi:
Salary compression
Salary inversion
Red-circle salary (gaji di atas maksimum range)
Green-circle salary (gaji di bawah minimum range)
sebelum masalah tersebut memengaruhi motivasi, retensi, dan efektivitas organisasi.
Bacaan yang Paling Saya Rekomendasikan
SHRM – Salary Compression
WorldatWork – Managing Pay Compression
Salary.com – Salary Inversion vs Salary Compression
ADP – Salary Compression Guide
Paylocity – Compa Ratio Guide



Comments