top of page

Apakah Return on Training Investment (ROTI or ROI) Perlu Dihitung Untuk Setiap Program Pelatihan Secara Individual?

Sep 21
5 min read

Pertanyaan ini diajukan salah seorang peserta dalam pelatihan CHRP yang diselenggarakan Unika Atmajaya. Jawaban singkatnya: TIDAK perlu. Alasannya bukan karena ROI tidak penting, tetapi karena pendekatan tersebut bisa menghasilkan angka yang tidak meaningful dan bahkan mendorong keputusan training yang keliru. Namun saya merasa perlu memberi penjelasan lebih mendalam mengenai alasan tersebut melalui blog ini.


Mengapa ROI tidak perlu dihitung untuk setiap training?

1. Tidak semua training memiliki tujuan finansial langsung

Ada training yang memang mudah dikaitkan dengan revenue, misalnya Sales Academy.

Tetapi bagaimana menghitung ROI untuk:

  • onboarding karyawan baru?

  • compliance training?

  • ethics?

  • leadership mindset?

  • communication?

  • collaboration?

  • succession preparation?

Dampaknya sering muncul jangka panjang dan melalui beberapa faktor, sehingga sulit mengisolasi nilai finansial dari satu training.


2. Dampak bisnis biasanya merupakan hasil dari banyak intervensi

Misalnya seorang sales meningkat performanya setelah mengikuti:

Product Training → Sales Training → Coaching dari atasan → New incentive scheme → New CRM → Market condition yang lebih baik

Kalau sales naik Rp10 miliar, kita tidak bisa secara otomatis mengatakan:

"Training menghasilkan Rp10 miliar."

Ada banyak faktor yang berkontribusi.

Karena itu, attribution menjadi masalah besar dalam perhitungan ROI training.


3. Banyak capability membutuhkan waktu untuk menghasilkan business impact

Contohnya Leadership Development.

Hari ini seseorang mengikuti leadership programme.

Tidak realistis mengharapkan:

Training selesai → bulan depan profit naik.

Dampaknya mungkin melalui:

Learning → perubahan behaviour → kualitas leadership → engagement → retention/productivity → business result

Prosesnya bisa membutuhkan 6–24 bulan.


4. Biaya menghitung ROI setiap course bisa lebih besar daripada manfaatnya

Bayangkan Corporate University memiliki:

  • 300 program

  • 20.000 peserta

  • 50,000 learning hours

Kalau setiap course harus dihitung ROI secara detail, organisasi akan menghabiskan banyak waktu untuk:

  • baseline measurement

  • post-training measurement

  • data collection

  • financial conversion

  • attribution

  • validation dengan Finance

  • follow-up 6–12 bulan

Akhirnya Training Division bisa menjadi sibuk mengukur training daripada meningkatkan

organisasi.


5. ROI bisa mendorong perilaku yang salah

Ini yang menurut saya paling penting.

Kalau setiap training harus menunjukkan ROI tinggi, maka Corporate University atau Training Division bisa cenderung memilih training yang mudah menghasilkan angka finansial, sementara capability yang sangat penting tetapi dampaknya jangka panjang menjadi kurang mendapat perhatian.

Contohnya:

Sales training menghasilkan revenue → ROI terlihat tinggi.

Sementara:

Leadership pipeline programme → hasilnya baru terlihat beberapa tahun kemudian.

Bukan berarti leadership programme tidak valuable. Cara pengukurannya memang berbeda.


Jadi, bagaimana sebaiknya?

Saya akan menggunakan 3 level measurement:

Level 1 — Training Efficiency

Untuk seluruh training.

Contohnya:

  • Cost per participant

  • Cost per learning hour

  • Participation rate

  • Completion rate

  • Trainer utilisation

  • Digital learning utilisation


Level 2 — Learning & Capability Impact

Untuk melihat apakah capability benar-benar meningkat.

Contohnya:

  • Knowledge improvement

  • Skill assessment

  • Certification

  • Behaviour change

  • Manager assessment

  • Capability maturity


Level 3 — Business Impact & ROI

Hanya untuk strategic/major programmes yang memang mempunyai hubungan kuat dengan business outcome.

Misalnya:

Program

Business Impact

Sales Academy

Incremental margin/revenue

AI Academy

Productivity & cost saving

Leadership Academy

Retention, productivity, succession

Credit Academy

Credit quality & risk

Customer Experience Academy

NPS, retention, complaints

Digital Academy

Adoption & process efficiency

Saya akan menggunakan prinsip sederhana:

"Measure everything, but don't calculate ROI for everything."

Semua program diukur, tetapi tidak semua program harus dipaksa menghasilkan angka ROI.

Untuk Corporate University, yang lebih penting adalah menunjukkan:

Training Investment → Capability → Behaviour → Business Impact

dan kemudian ROI dihitung pada level strategic programmes atau portfolio, bukan setiap individual course.


Untuk Corporate University/Training Division, saya akan menyarankan pendekatan:

Corporate University ROI = Financial Value dari strategic capability initiatives ÷ Total investment in those initiatives


Dengan demikian Corporate University atau Training Division dapat menunjukkan kepada Direksi:

"Dari total investasi learning, berapa yang menjadi capability improvement, berapa yang menghasilkan measurable business impact, dan berapa financial value yang dapat diatribusikan secara reasonable."

"Corporate University tidak perlu membuktikan ROI dari setiap program. Yang perlu dibuktikan adalah bahwa setiap investasi learning memiliki tujuan yang jelas, diukur dengan metode yang tepat, dan—untuk program-program strategis—dapat menunjukkan kontribusinya terhadap business performance."

Berikut ini adalah referensi yang saya gunakan sebagai landasan pendapat di atas.


1. Association for Talent Development (ATD)

ATD secara eksplisit menyatakan bahwa tidak semua program perlu dievaluasi pada semua level, termasuk ROI. Mereka merekomendasikan agar evaluasi Business Impact dilakukan pada sebagian program strategis, sedangkan ROI terutama digunakan untuk program yang high-cost atau mission-critical.


ATD memberikan contoh distribusi evaluasi:

Level Evaluasi

Proporsi yang direkomendasikan

Input / efficiency

100%

Reaction & planned action

100%

Learning

80–90%

Application

30–40%

Business Impact

10–20%

ROI

5–10%


"Measure everything, but don't calculate ROI for everything."

2. U.S. Government Accountability Office (GAO)


GAO menyatakan bahwa tidak semua training cocok atau membutuhkan ROI analysis. Evaluasi pada level yang lebih tinggi menjadi semakin kompleks karena biaya pengumpulan data dan sulitnya menghubungkan secara langsung training dengan peningkatan kinerja individu maupun organisasi.

GAO bahkan menyatakan bahwa ROI analysis sebaiknya dilakukan secara selektif, dengan mempertimbangkan antara lain:

  • biaya program;

  • jumlah peserta;

  • tingkat kepentingan/manajemen interest;

  • visibility program;

  • expected lifespan program;

  • feasibility dan cost-effectiveness evaluasi.

Yang menarik, GAO memberikan contoh bahwa suatu organisasi dapat melakukan reaction evaluation untuk 100% program, tetapi ROI analysis hanya untuk sekitar 5% program.


GAO juga sudah menerbitkan updated guide pada Juli 2026, yang kembali menekankan pentingnya menghubungkan training investment dengan strategic priorities dan organisational performance.


3. CIPD — Learning Evaluation, Impact and Transfer

CIPD menekankan bahwa evaluasi L&D yang efektif harus dikaitkan dengan performance gaps dan business objectives. Jadi pertanyaannya bukan sekadar:

"Berapa ROI training ini?"

tetapi terlebih dahulu:

"Performance problem apa yang ingin kita selesaikan, dan bagaimana learning intervention berkontribusi terhadap hasil tersebut?"

Kesimpulannya:

1. ROI is not the same as effectiveness

Training yang tidak bisa dihitung ROI-nya bukan berarti training tersebut tidak efektif.

Ada perbedaan antara:

Learning effectiveness→ apakah capability meningkat?

Behaviour change→ apakah capability diterapkan?

Business impact→ apakah performance organisasi berubah?

Financial ROI→ apakah manfaat tersebut dapat dikonversikan secara credible menjadi nilai finansial?


2. Attribution is difficult

Misalnya setelah Sales Academy, revenue naik Rp20 miliar.

Apakah seluruh Rp20 miliar tersebut berasal dari training?

Belum tentu.

Bisa ada pengaruh:

Training + coaching + incentive + pricing + product + market condition + technology + leadership.

Karena itu, mengklaim seluruh peningkatan revenue sebagai training ROI dapat memberikan angka yang terlihat impresif tetapi belum tentu credible.

GAO juga menyoroti kesulitan menghubungkan secara langsung training dengan peningkatan performance dan mengubah berbagai manfaat menjadi monetary value.


3. Evaluation should be proportional to the strategic value


Semakin strategis, mahal, visible, dan critical suatu program, semakin dalam evaluasinya.

Jadi bukan:

"Every training = ROI"

melainkan:

Every training = appropriate measurement.
Strategic training = business impact.
High-cost / mission-critical training = ROI where feasible.

Referensi:

  1. Association for Talent Development (ATD). Making Training Measurement and Evaluation Work. 

  2. U.S. Government Accountability Office (GAO). Human Capital: A Guide for Assessing Strategic Training and Development Efforts in the Federal Government. 

  3. U.S. Government Accountability Office (GAO). Human Capital: A Guide for Developing and Assessing Strategic Training and Development Efforts in the Federal Government. 2026.

  4. Chartered Institute of Personnel and Development (CIPD). Learning Evaluation, Impact and Transfer. 2025.


---------- comments or questions are welcome ---------


 
 
 

Comments

Rated 0 out of 5 stars.
No ratings yet

Add a rating
bottom of page